Hairless Vanilla

image

“Bisa tebak kudapan yang sedang kusiapkan untukmu ini?”
Di seberang telepon, Mark menjawab, “Lemon pie?”
“Tebak lagi,” gadis itu tertawa renyah.
Horchata?”
“Itu minuman, Mark!” sang gadis terkikik. “Kalau sudah hampir sampai, hubungi lagi ya.” Ia menutup telepon. Mark tersenyum.

*
Setahun lebih Mark tak menemui gadisnya. Mengikuti program pertukaran pelajar di negeri seberang, mereka hanya bisa bercakap lewat telepon, internet, you name it. Tapi sekarang, ia akan menjumpainya.
Namun, akhir-akhir ini, gadisnya selalu saja menolak memperlihatkan foto terbarunya. Padahal, Mark ingin sekali melihat wajah imut gadisnya. Rindu rambut coklat beraroma vanilanya.
Lebih baik tak usah kutelepon saja agar ia terkejut, pikir Mark.

*
“Seharusnya kau menelpon dulu!” jeritnya. Wajah ini memang milik gadisnya, tetapi… di mana rambut coklat vanilanya?
“Aku harus dikemoterapi supaya sembuh,” isaknya.
“Aku tidak mengenalmu.”
“Ya. Penampilanku ini pasti membuatmu malu,” ujar sang gadis sambil berusaha menghapus sungai kecil yang mengalir dari matanya.
Mark mengangkat dagu gadisnya itu, “Maksudku, aku tidak mengenalmu yang bisa berbohong padaku. I love you, with or without your brown vanilla hair.”
Sang gadis pun tersenyum. Lantas, ia berkata pada kekasihnya,“I love you too.”


Dimuat di Majalah Story Edisi Maret 2014, Vol. 53

Adinda S. Rahayu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s