Hiking Girls dan Catatan Singkat Kebudayaan Bangsa Cina

image
Travelling companion via http://www.tumblr.com

Jalan-jalan ke luar negeri merupakan impian banyak orang. Namun, bagi Eunsung dan Bora, perjalanan mereka ke Cina justru merupakan bencana. Karena kenakalan yang mereka lakukan, dua gadis asal Korea Selatan ini harus berjalan kaki sepanjang 1.200 km di dataran Cina bagian utara, lebih tepatnya dari kota Urumqi ke Dunhuang yang lebih dikenal dengan Silk Road, yakni jalur perdagangan orang-orang Cina dengan bangsa Barat zaman dahulu.

Mereka harus berjalan di dataran yang sebagian besar wilayahnya berupa padang pasir yang gersang. Mereka pun tidak diperkenankan berkendara, menggunakan ponsel, alat pemutar musik, atau gadget sejenisnya. Belum lagi, para tokoh juga dihadapkan dengan pergolakan batinnya masing-masing. Perjalanan tersebut terbukti tidak hanya menempa fisik, tetapi juga mental mereka sehingga menjadi orang yang lebih baik.

Di tengah maraknya buku dan novel bernuansa travelling, Hiking Girls karya Kim Hye Jung, novelis asal Korea Selatan ini terasa segar dan berbeda dari buku sejenisnya. Novel pemenang Blue Fiction Award ini pun kaya akan pengetahuan budaya yang dikemas dengan menarik. Beberapa di antaranya ialah sebagai berikut.

Siapa Duluan?

Pada masa-masa awal perjalanan mereka, Eunsung menolak makan makanan penduduk setempat. Salah satunya ialah mi daging kambing yang dianggapnya “meniru” spageti. Namun, Kak Mijoo, pembimbing mereka, memberi tahu bahwa bangsa Cina-lah yang membuat mi pertama kali. Orang Italia yang saat itu datang ke Cina dan makan mi, kembali ke negara mereka dan lantas membuat spageti.

image
Spageti dari Italia? via http://www.stipanovic.com

Kemudian, ketika mereka hampir sampai di Reruntuhan Gao Chang, Kak Mijoo mentraktir es krim buah yang disebut maroji untuk Eunsung dan Bora. Di sini, Eunsung juga tahu bahwa es krim di dataran tersebut merupakan asal mula seluruh es krim yang ada di dunia.

“Saat Marco Polo tiba di tempat ini pada abad ke-13, dia melihat orang-orang memakan es rasa buah-buahan dan menuliskan cara pembuatannya di catatannya yang berjudul The Travels of Marco Polo. Saat itu, pedagang Italia membaca catatan tersebut dan mulai menjual es krim. Aku kira kota yang sangat tertinggal ini tidak mungkin lebih hebat dari negara-negara Barat, ternyata sangat di luar dugaan, banyak peradaban Barat yang dimulai dari tempat ini.”- hlm. 111—112

“Bule” Asli Cina

“Tapi ada yang aneh, bibi pemilik restoran bukan orang Cina. Koki lelaki yang berada di dalam sana juga bukan orang Cina. Apa mereka imigran Barat yang datang ke Cina? Kelopak mata mereka sangat tebal, hidung mereka sangat mancung, penampilan luar mereka sangat mencolok. Mereka terlihat seperti orang Barat. Namun, aku yakin sebenarnya mereka orang Timur karena kulit mereka terlihat kecoklatan dan wajah mereka sangat bundar. Apalagi bibi itu berbicara dengan bahasa Cina yang sangat lancar.” – hlm. 18—19

Bibi pemilik restoran dan koki yang dideskripsikan Eunsung dalam kutipan di atas merupakan bangsa Uighur. Yup, meskipun sangat mirip dengan orang Eropa Kaukasus, mereka itu orang Cina asli, lho. Bangsa Uighur merupakan keturunan klan Turki yang hidup di Asia Tengah, terutama di Xinjiang, Cina. Di sana, mereka merupakan kelompok minoritas dan sebagian besar penduduknya beragama Islam.

image
Pemuda dan pemudi Uighur via http://www.mychinatours.com

Bangsa Uighur juga memiliki peran tersendiri dalam peradaban dunia.  Bangunan-bangunan bersejarah, ilmu pengobatan, dan karya seni, seperti lukisan, musik, dan karya sastra bangsa Uighur turut memperkaya kebudayaan Asia.

Selanjutnya, Eunsung, Bora, dan Kak Mijoo berjumpa lagi dengan bangsa Uighur nomaden yang tinggal di dalam yurt, yakni sejenis tenda besar dengan kain tebal yang berfungsi sebagai rumah. Eunsung pun belajar menerima kebudayan dan cara hidup bangsa Uighur yang sangat berbeda dengan kehidupannya sehari-hari.

Orang Cina Pelit?

Kak Mijoo hampir tertipu oleh pedagang Cina dan tas pinggangnya pun dicuri pemilik restoran ketika mereka makan malam. Di saat bersamaan, ransel milik mereka bertiga juga tertinggal di minimarket yang dijaga oleh orang Cina. Karena kejadian tersebut, Eunsung langsung mengambil kesimpulan semua orang Cina jahat dan pelit.

Akan tetapi, pandangan Eunsung berubah ketika ia tahu bahwa bibi pemilik minimarket dan suaminya rela mengelilingi seluruh penginapan demi menemukan mereka dan mengembalikan ransel-ransel yang tertinggal itu. Eunsung merasa bersalah karena sudah menggeneralisasi bahwa semua orang Cina itu jahat dan pelit.

“Aku sering melihat di TV banyak orang asing yang mengumpati semua orang Korea karena mereka pernah dicopet sewaktu datang ke Korea. Saat itu, aku merasa mereka sangat tidak adil. Yang mencopet kan hanya satu orang, jadi aku tidak dapat memahami mereka yang menghina-hina semua orang Korea. Namun, ternyata aku tidak ada bedanya dengan mereka. Di Korea, ada orang baik dan orang jahat, begitu pula dengan di Cina. Semua orang di dunia berbeda, tetapi sama.” – hlm. 103

image
Novel Hiking Girls via http://www.lemarihobbybuku.blogspot.com

Hiking Girls (Petualangan Seru Cewek-Cewek Korea di China)
Oleh Kim Hye Jung
Diterjemahkan oleh Dwita Rizki
Penerbit Atria (Serambi)
Cetakan I, Agustus 2012
Tebal 275 halaman
Harga Rp39.000,00
ISBN 978-979-024-392-7

Catatan dan Referensi:
1. Republika Online
2. Blog pribadi penulis di Kompasiana
3. Ruri Rubi Sari yang ikhlas meminjamkan buku ini kedua kalinya kepada penulis.

Adinda S. Rahayu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s