Bukan Sekadar Pasar Tradisional

Belum lama, saya ditugaskan “mampir” ke Pasar Santa, Jakarta Selatan untuk mewawancarai pemilik kios yang menjual piringan hitam. Ketika saya meminta izin pada Ibu saya, beliau iseng berseloroh, “Pasar Santa pasarnya orang-orang kaya.” Penasaran, saya pun berselancar untuk mencari informasi mengenai pasar ini di internet.

Pasar Santa (kini bernama Pasar Modern Santa) terletak di daerah Kebayoran Baru. Letaknya sendiri agak ngumpet dari jalan raya. Untungnya, saya tidak perlu berjalan jauh untuk mencapainya setelah turun dari Metromini 75 dari Pasar Minggu.
Saya tiba di Pasar Santa sekitar pukul tujuh malam. Sebelumnya, saya mendapat informasi bahwa kios piringan hitam yang saya tuju ramai pada malam hari. Di lantai satu, banyak kios yang sudah tutup (atau memang tidak buka) sebab saya berkunjung pada hari Minggu.

Saya pun menuju ke lantai dua pasar tersebut. Lantai dua Pasar Santa yang kabarnya merupakan “pasar kreatif” memang benar adanya. Bukan kios buah dan sayur yang tersedia sebagaimana layaknya dalam sebuah pasar tradisional, melainkan aneka kedai kopi, gerai makanan, kios musik, buku, serta kaus yang bernuansa anak muda banget. Saya melihat spanduk kecil berisi iklan kios yang menjual jajanan khusus anak-anak SD. Nuansa yang mirip mal, tetapi tetap tradisional.

Usai mengambil beberapa foto (terpaksa menggunakan blitz karena pencahayaan yang kurang memadai), saya pun menuju Laidback Blues Record Store untuk mewawancarai Samson Pho, pemiliknya. Lagu “I Love Rock n’ Roll” milik Joan Jett mengalun keras dari dalam kios tersebut. Di dalam kios terdapat 400 keping piringan hitam dari beragam genre musik dan musisi. Jazz, rock, indie, dan reggae ada. Radiohead, Arctic Monkeys, 311, dan Elvis Presley hadir juga. Mereka pun hanya beberapa di antaranya.

image
Tampak luar kios Laidback Blues Record Store (dok. penulis)
image
Interior kios yang penuh mural (dok. penulis)

Saya penasaran mengapa pemilik memilih menjual piringan hitamnya di pasar tradisional. Kenapa enggak di mal, misalnya? Ternyata, menurut Samson, lokasi Pasar Santa ini strategis. Selain itu, harga sewanya termasuk affordable ketimbang apabila dia membuka kios piringan hitam di Kemang. “Mau gue jual berapa kalau harga sewa aja mahal,” katanya. Lagi pula, belakangan ini banyak anak-anak muda yang memilih Pasar Santa sebagai tempat nongkrong.

Interior Laidback Blues Record Store pun tergolong menarik untuk sebuah kios yang dibuka di pasar tradisional. Penuh mural dan juga berpendingin ruangan. Ada dua orang pengunjung yang tampak sedang memilih-milih koleksi piringan hitam. Menurut pemilik, ia terinspirasi oleh Jamaica Record Store yang ada di Jamaika. Saya pun mengambil foto lagi sebagai dokumentasi.

image
Sub Store yang sedang menyetel album Endless Summer-nya Beach Boys (dok. penulis)

Setelahnya, saya berkunjung ke Sub Store. Saat itu, si empunya kios sedang tidak ada di tempat sehingga saya tidak melakukan wawancara. Seorang staf pun mengizinkan saya mengabadikan interior kios yang bernuansa Jepang itu. Sama seperti Laidback Blues Record Store, piringan hitam yang dijual di sini pun beraneka ragam. Tidak hanya piringan hitam, tetapi juga buku, majalah musik, dan juga kaus. Review mengenai dua kios tersebut sebenarnya sudah pernah saya baca di beberapa media daring, seperti Gigsplay dan Freemagz.

Ketika hendak pulang, saya sempat nyasar ke beberapa kios lain. Banyak anak muda sedang hang out di beberapa kedai, pemandangan yang lazimnya ditemukan di kafe-kafe di mal gaul. Buat saya, pasar ini anomali. Pasar tradisional ini enggak seperti pasar tradisional pada umumnya. Kios-kios dan suasana yang saya dapati di lantai dua malah lebih mirip suasana pusat perbelanjaan minus pencahayaan yang “wah” dan pendingin ruangan.

Saya hanya tersenyum simpul melihatnya, berharap bakal ada lebih banyak lagi pasar-pasar tradisional berkonsep kreatif lainnya di Tanah Air, khususnya di Jakarta. Sayang, saya tidak sempat mampir di kios lainnya. Masih ada lorong-lorong yang belum terjamah tapak kaki saya. Lain waktu, harus!

Catatan: Tulisan saya mengenai piringan hitam “menginvasi” pasar tradisional dimuat di Koran Sindo edisi Sabtu, 18 Oktober 2014.

Adinda S. Rahayu

Iklan

2 pemikiran pada “Bukan Sekadar Pasar Tradisional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s